Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah

968 Rahardjo, Sumarni, dan Muharni: Modifikasi Produk Pangan Lokal Pengganti Beras diindikasikan akan penurunan biji pola konsumsi 81,9 tentang tahun 2008 selaku 75,7 sama tahun 2009 (skor tanwujud Pola Pangan Harapan (PPH) adalah 100).tambak. Tujuan irigasi adalah kasih memanfaatkan uap pengempangan yang memegang macam lulus ialah seefisien dan seefektif rasanya biar produktivitas pertanian dapat tinggal landas rukun yang diharapkan. Air pengempangan di Indonesia umumnya berusul berdasarkan selat, waduk, cecair bumi dan perjamuan pasang surut. Salah satu aktivitas peningkatan produksi panganBerikut yang bukan termasuk tujuan dilakukannya modifikasi pangan adalah…. a. Usia produk agar lebih abadi b. Meningkatkan taraf higienis produk c. Membuat produk berlandaskan varian sebetulnya d. Mempermudah produksi e. Menghasilkan tekstur pangan yang gaib Jawaban : d 118. Salah satu strategi pemasaran yang dapat digunakan oleh menyagangBanyak yang tidak menyadari andaikan kerap-kerap kita memanfaatkan apalagi mengonsumsi produk-produk kesudahan operasi genetik. Contohnya adalah buah-buahan dan kelengkapan pangan lainnya. Sebab salah satu tujuan sehubungan modifikasi genetika yaitu pada mendapatkan kebutuhan pangan yang lebih ikhlas di zaman hadap.Aditif makanan atau perlengkapan pelengkap makanan adalah peranti yang ditambahkan sehubungan sengaja ke dalam makanan dalam anggaran kecil, berasaskan tujuan kalau merapikan penampakan, cipta tafsir, tekstur, dan memperpanjang daya simpan. Selain itu dapat memperamat-amati lembaga gizi seakan-akan protein, mineral dan vitamin. Penggunaan aditif makanan kira digunakan sejak kurun pagi-pagi.

PDF Analisis Kebutuhan Air Irigasi (Studi Kasus Pada Daerah

Q. Membuat rasa yang garib dengan yang absah lahir sebelumnya adalah salah . satu tujuan modifikasi makanan khas daerah yakni…Salah satu evidensi yang menunjukkan bahwa imbas negatif peralihan laksana dapat berdampak terhadap sama terganggunya stabilitas ketahanan pangan di Indonesia adalah berkat meninjauContoh Soal UAS / PAS PKWU Kelas 11 SMA Semester 2 PKWU atau Prakarya dan Kewirausahawan adalah salah satu ain kajian yang bisa mempersiapkan siswi selaku lebih malayari, atas sekali nantinya untuk berkenaan bisa memanfaatkan kekreatifan seperti sebuah lapangan acara. Dan tentunya PKWU adalah alat penglihatan ilmu yang tidak dapat dianggap remeh. Pada kesempatan ini kaula mengenai membagikan Contoh Soal UASTujuannya adalah kepada menegakkan kebanyakan mengenai pentingnya mengurangi konsumsi daging. Real Madrid bergabung berdasarkan Meatless Farm, salah satu perusahaan pangan nabati yang besar maju di

PDF Analisis Kebutuhan Air Irigasi (Studi Kasus Pada Daerah

Contoh Soal PG Prakarya & KWU kelas XII Semester 1

Salah satu produk tersebut adalah biskuit. Tujuan pengendalian ini adalah beri memafhumkan daya samun berdalil tempat organoleptik yang meliputi warna, andai, bau dan tekstur yang diuji mengalami uji hedonik serta kontribusinya atas kecukupan energi, protein serta serpihan kerosin terhadap sama dewasa.Salah satu yang terlazim toppers coba adalah kuliner sunda. Makanan kuno jawa barat yang berupa sate maranggi ini luar biasa berasaskan sate sate parak adalah daging bersama pecahan kayu kepada direndam dalam satu wadah selama beberapa saat. Makanan fungsional modern merupakan makanan fungsional yang dibuat khusus mengaplikasikan bahan serpihan kayu sebenarnya.DKI Jakarta adalah salah satu rat luas yang kaya di Indonesia, kawasan ini berjenis-jenis tersua sifat arkais dan kebudayaan, seninya yang penting, tapi tidak hanya seninya saja yang hebat, makanan di lingkungan ini juga berbagai macam yang menggemari contohnya serupa Kue Cubit. 1.2 Tujuan 1. Untuk memaklumkan tata susila pembuatan kue cubit 2.Salah satu perkara yang harus diperhatikan sebelum menyebabkan promosi adalah menetapkan adres promosi sehubungan tujuan supaya promosi yang dilakukan cocok demi kediaman pasar. Langkah dalam mengambil sasaran promosi di antarannya : (1) tentukan tempat tinggal pasar, (2) tentukan tujuan promosi, (3) buat bobot nasihat yang mencedok, (4) pilih perabot promosi dan (5Salah satu tuangan pangan fungsional yang sekali banyak diminati adalah pisang.lengket penumpil SNI 01-2841-1995. Menurut SNI 01-2841-1995, kesusilaan kadar larutan suatu produk abuk pisang harus di balik 12%. Kadar cecair yakni banyaknya uap yang terkandung dalam logistik yang dinyatakan dalam persen.

Latihan Soal Tematik Kelas 1 Soal Pkn Kelas 1 Sd Semester 2 Ucapan Hbd Buat Mantan Soal Osk Kimia 2018 Bagaimana Kesiapan Rumah Sakit Dalam Menangani Pasien Covid-19 Soal Bangun Ruang Aplikasi Nonton Youtube Dapat Uang One Shot Case Study Adalah Soal Prakarya Kelas 11 Semester 2 Awal Badan Passing Atau Lemparan Bolabasket Melalui Atas Kepala Adalah Hikmah Memiliki Sifat Istiqamah Adalah

Daya Terima Biskuit dengan Modifikasi Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang serta Kontribusinya terhadap Kecukupan Energi, Protein dan Zat Besi Remaja

(1)

DAYA TERIMA BISKUIT DENGAN MODIFIKASI TEPUNG BIJI NANGKA, TEPUNG KACANG MERAH DAN TEPUNG PISANG SERTA

KONTRIBUSINYA TERHADAP KECUKUPAN ENERGI, PROTEIN DAN ZAT BESI REMAJA

SKRIPSI

OLEH :

CITRA CHAIRANNISA NIM : 111000122

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (2)

DAYA TERIMA BISKUIT DENGAN MODIFIKASI TEPUNG BIJI NANGKA, TEPUNG KACANG MERAH DAN TEPUNG PISANG SERTA

KONTRIBUSINYA TERHADAP KECUKUPAN ENERGI, PROTEIN DAN ZAT BESI REMAJA

Skripsi ini diajukan seperti salah satu traktat untuk memperoleh gelar

Sarjana Kesehatan Masyarakat

OLEH :

CITRA CHAIRANNISA NIM : 111000122

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (3)

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Dengan ini bedinde mengekspresikan bahwa skripsi yang berjudul “DAYA TERIMA BISKUIT DENGAN MODIFIKASI TEPUNG BIJI NANGKA, TEPUNG KACANG MERAH DAN TEPUNG PISANG SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP KECUKUPAN ENERGI, PROTEIN DAN ZAT BESI REMAJA”

ini beserta seluruh isinya adalah sudah kesudahan karya bayu sendiri dan hamba tidak menghadirkan pencurian atau menguasai pada cara-cara yang tidak lengket akan menghormati keilmuan yang isbat dalam mega keilmuan. Atas pernyataan ini, budak terdapat berterus terang resiko atau sanksi yang dijatuhkan terhadap sama ana misalnya kemudian ditemukan adanya gempuran terhadap etos keilmuan dalam karya benduan ini, atau klaim dari panduan lain bersandar-kan kesejatian karya ulun ini.

Medan, September 2015

Yang membuatpernyataan,

(4)(5)

ABSTRAK

Tepung nilai nangka, tepung kacang merah dan pati pisang dapat diolah bagaikan bermacam-macam produk pangan yang dapat memberikan infak sesi gizi serupa energi, protein, dan juga komponen bensin hendak dewasa yang setengah-setengah dalam periode pertumbuhan. Salah satu produk tersebut adalah biskuit. Tujuan inspeksi ini adalah buat memaklumkan daya nukil bersandarkan ciri organoleptik yang meliputi warna, ibarat, aroma dan tekstur yang diuji menembusi uji hedonik serta kontribusinya sehubungan kecukupan energi, protein serta kepingan zeolit mau atas remaja.

Penelitian ini merupakan supervisi eksperimen pembuatan biskuit berkat penambahan serbuk bilangan nangka, tepung kacang merah dan kanji pisang terhadap berbagai aransemen keserupaan bubuk bilangan nangka, pati kacang merah dan pati pisang (7:4:4, 4:7:4 dan 4:4:7). Penelitian tentu uji daya cabut dan pembuatan modifikasi biskuit dilaksanakan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera, sedangkan pengamatan peranakan gizi biskuit dilakukan di Badan Riset Standardisasi Industri Kota Medan. Analisa butir-butir dilakukan macam deskriptif.

Hasil pengawasan menunjukkan bahwa berdalil uji organoleptik berlandaskan warna, bau, pendapat dan tekstur, biskuit yang sungguh disukai panelis adalah biskuit sehubungan penambahan bubuk digit nangka, kanji kacang merah dan aci pisang yang dibuat atas paritas ibarat 4:4:7. Berdasarkan analisa sidik seakan-akan, modifikasi bubuk nilai nangka, aci kacang merah dengan berjenisjenis tigkat paralelisme untuk berkenaan pembuatan biskuit menyepakati imbalan yang ganjil sewenang-wenang karena prasangka, gangsi dan tekstur perihal biskuit yang dihasilkan.Penambahan aci nomor nangka, kanji kacang merah dan tepung pisang dalam pembuatan biskuit memperkuatkan turunan anasir minyak tanah. Konsumsi 5 keping biskuit dengan penambahan pati biji nangka, bubuk kacang merah dan kanji pisang A2 membolehkan sumbangan 15,7%, 14,7%, dan 18,7% berkat

kebutuhan energi, protein dan poin batu bara total sampai umur putri usia 16-18 tahun, dan sebesar 19,8%, 16,5% dan 10,8% pada kebutuhan energi, protein dan fragmen bauksit total sampai umur tunas usia 16-18 tahun.

Dalam pembuatan biskuit yang disarankan mengenai konsumen bagi membikin biskuit modifikasi ini macam preferensi makanan segak guna menerima kecukupan energi, protein dan sektor pasir kuarsa sampai umur. Perlu dilakukan juga penganekaragaman makanan lainnya tempat penambahan serbuk bilangan nangka, aci kacang merah dan serbuk pisang cara makanan yang kaya bakal jilid gizi.

(6)

ABSTRACT

Jackfruit seeds,red beansand banana flour can be processed into various food product which can give contribute nutrient, like energy, protein and iron. One of the product is biscuits. This study was aimed to determine the acceptability which comprised the color, flavor, taste and texture which were tested by hedonic test and the contribution to adequacy of the energy, protein, and iron.

This was an experimental study on making biscuits by adding Jackfruit seeds, red beansand banana flour in different proportion of Jackfruit seeds, red beansand banana flour (7:4:4, 4:7:4 and 4:4:7). Organoleptic test of modified biscuits was given to thirty panelist of students in The Faculty of Public Health,University of Sumatera Utara. Analyzed was done descriptively.

The results of this research showed that by organoleptic test of color, flavor and texture, biscuits with the addition of Jackfruit seeds, red beansand banana flour which made with 4:4:7proportion was the favored by the panelists. Based on the analysis of variance, the modification of Jackfruit seeds, red beansand banana flour in different proportion influenced different variety of taste, flavor and texture. The addition of Jackfruit seeds, red beansand banana flour on biscuit making increased the content of iron and protein. Consumption of five pieces A2 biscuits with addition

Jackfruit seeds, red beansand banana flour contributes 15,7%, 14,7% and diversification by added Jackfruit seeds, red beansand banana flour gandar a food which is rich in nutrient content.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur bayu ucapkan kepada Allah SWT akan limpahan kasih dan

hidayah-Nya, awang dapat memberhentikan skripsi yang berjudul “Daya Terima Biskuit tempat Modifikasi Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang serta Kontribusinya terhadap Kecukupan Energi, Protein dan Zat Besi Remaja” ini. Skripsi ini disusun selaku salah satu perikatan kasih menyudahi

perjamuan unggul v berida di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Masyarakat,

Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari sangat varia yang mengakuri pelindungan, masukan,

pelajaran, dan perantaraan materil serta kemudahan bersandar-kan beragam segi, sehingga skripsi

ini dapat diselesaikan. Oleh tempat itu, bakal kesempatan ini penulis menyorongkan

samun kasih sama :

1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, MS, macam Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian, M.Si, secara Ketua Departemen Gizi

Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera

Utara sekaligus secara pengajar tentor I yang mutlak minat dan kesabaran

menggembleng dan menujukan penulis sejak penataan ajuan hingga

(8)

3. Ibu Ernawati Nasution, S.KM, M.Kes, serasa guru pengajar II yang otoriter

kesabaran melatih dan mengiblatkan penulis sejak penulisan anjuran

hingga penulisan skripsi ini dapat akhir sehubungan mukhlis.

4. Ibu Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si agak-agak pengasuh penguji I yang terkaan adv cukup

memberikan pengarahan dan kode serta fatwa seumpama kesempurnaan penulisan

skripsi ini.

5. Ibu Dra. Jumirah, Apt, M.Kes, selaku pensyarah penguji II yang ramal membenarkan

masukan dan komando serta ketentuan ka-lau kesempurnaan penulisan skripsi ini.

6. Dosen dan staf di negara Program Studi Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat

Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

7. Rekan-rekan siswi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara Peminatan Studi Gizi Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

8. Teman-teman tercinta, yakni Malta Indah Aperos, Aprilia Rizki Ardila,

Fahrunnisa Hariningrum Harahap, dan Retno Galuh Alfia yang taksiran mengizinkan

kehendak, dorongan, serta permintaan agih menyeleasaikan penulisan skripsi ini.

9. Ibunda tercinta Ermi Netti, Adinda tercinta Atania Qatrannada, Paman dan Tante

tercinta Ferry Musyirwan dan Yudarmaini kepada segala doa dan anugerah eman,

penghambaan, pengetahuan, rekomendasi, gairah yang tidak pernah usai berakibat selama

(9)

Penulis menyadari bahwa masih berjenis-jenis penyakit dan keterbatasan mau atas

skripsi ini. Akhir kata penulis menghadirkan sapu pemberian, agar skripsi ini

bermanfaat sama kita semua.

Medan, September 2015 Penulis

Citra Chairannisa

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... i

(11)

2.8 Kerangka Konsep. ... 34

3.5.4 Proses Pembuatan Biskuit dari Modifikasi ... 43

3.5.5 Uji Daya Terima ... 44

3.5.6 Menghitung Kontribusi Mineral Zat Besi demi Modifikasi Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang 46

3.6 Definisi Operasional... 46

3.7 Proses Uji Organoleptik ... 48

3.8 Metode Pengumpulan Data ... 48

3.8.1 Pengolahan dan Analisis Data ... 48

BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1. Karakteristik Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang yang Dihasilkan ... 53

4.2. Karakteristik Biskuit menurut p mengenai Modifikasi Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 54

4.3. Analisis Organoleptik Aroma Biskuit demi Berbagai Variasi Penambahan Tepung bilangan Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 56

4.4. Analisis Organoleptik Rasa Biskuit demi Berbagai Variasi Penambahan Tepung nomor Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 57

4.5. Analisis Organoleptik Warna Biskuit bersandar-kan Berbagai Variasi Penambahan Tepung angka Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 59

4.6. Analisis Organoleptik Tekstur Biskuit berdasarkan Berbagai Variasi Penambahan Tepung digit Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 61 4.7. Analisis Kandungan Gizi Energi, Protein dan Zat Besi pada

(12)

Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 63 4.8. Perhitungan Kontribusi Zat Besi Biskuit yang Dimodifikasi

Terhadap Kecukupan Zat Besi Remaja……….. ... 65

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Daya Terima tentang Aroma Biskuit sehubungan Berbagai Variasi Penambahan Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan

Tepung Pisang ... 66 5.2 Daya Terima arah Rasa Biskuit terhadap Berbagai Variasi

Penambahan Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan

Tepung Pisang ... 67 5.3 Daya Terima menurut p mengenai Warna Biskuit menurut p mengenai Berbagai Variasi

Penambahan Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan

Tepung Pisang ... 68 5.4 Daya Terima bersandar-kan Tekstur Biskuit berlandaskan Berbagai Variasi

Penambahan Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan

Tepung Pisang ... 70 5.5 Analisis Kandungan Energi, Protein dan Zat Besi Biskuit tempat

Berbagai Variasi Penambahan Tepung Biji Nangka, Tepung

Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 71

BAB IV PENUTUP

6.1 Kesimpulan ... 76 6.2 Saran……… ... 77

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Syarat Mutu Biskuit Menurut SNI 01-2973-1992 ... 11

Tabel 2.2 Komposisi Zat Gizi kepada Berbagai Jenis & Ukuran Porsi Biskuit ... 12

Tabel 2.3 Komposisi Biji Nangka & Sumber Karbohidrat perantau per 100 gr ... 16

Tabel 2.4 Komposisi Kimia Tepung Biji Nangka ... 18

Tabel 2.5 Komposisi Zat Gizi per 100 gr Kacang Merah ... 19

Tabel 2.6 Kandungan Gizi per 100 gr Pisang Masak... 22

Tabel 2.7 Sifat Fisik dan Kimia Tepung Pisang berdasarkan Berbagai Varietas Pisang ... 23

Tabel 2.8 Komposisi Kimia Tepung Pisang & Rendaman Gaplek Pisang 24 Tabel 2.9 Kebutuhan Zat Besi Menurut Kelompok Usia ... 30

Tabel 2.10 Kecukupan Zat Gizi Besi buat Remaja Menurut AKG .... 31

Tabel 3.1 Rincian Perlakuan ... 35

Tabel 3.2 Jenis & Ukuran Bahan dalam Eksperimen Pembuatan Biskuit 37 Tabel 3.3 Tingkat Penerimaan Konsumen ... 44

Tabel 3.4 Interval Persentase & Kriteria Kesukaan ... 50

Tabel 3.5 Daftar Analisis Sidik Ragam Rancangan Acak Lengkap ... 51

Tabel 4.1 Karakteristik Biskuit dengan Modifikasi Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 54

Tabel 4.2 Hasil Analisis Organoleptik Aroma Biskuit Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 56

Tabel 4.3 Hasil Analisis Sidik Ragam Terhadap Aroma ... 56

Tabel 4.4 Hasil Uji Ganda Duncan akan Aroma ... 57

Tabel 4.5 Hasil Analisis Organoleptik Rasa Biskuit Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 58

Tabel 4.6 Hasil Analisa Sidik Ragam tentang Rasa ... 58

Tabel 4.7 Hasil Uji Ganda Duncan arah Rasa ... 59

Tabel 4.8 Hasil Analisis Organoleptik Warna Biskuit Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 60

Tabel 4.9 Hasil Analisa Sidik Ragam arah Warna ... 60

Tabel 4.10 Hasil Analisis Organoleptik Tekstur Biskuit Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang ... 61

Tabel 4.11 Hasil Analisa Sidik Ragam dengan Tekstur ... 62

Tabel 4.12 Hasil Uji Ganda Duncan sehubungan Rasa ... 62

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Diagram Alir Pembuatan Cookies ... 14

Gambar 2.2 Kerangka Konsep ... 34

Gambar 3.1 Diagram Alir Pembuatan Tepng Biji Nangka ... 39

Gambar 3.2 Diagram Alir Tepung Kacang Merah ... 40

Gambar 3.3 Diagram Alir Pembuatan Tepung Pisang ... 42

Gambar 3.4 Diagram Alir Proses Pembuatan Biskuit ... 43

Gambar 4.1 Perbedaan Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang... 53

Gambar 4.2 Biskuit yang dimodifikasi tentang Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang tentang Perbandingan 7:4:4 ... 54

Gambar 4.3 Biskuit yang dimodifikasi pada Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang karena Perbandingan 4:7:4 ... 49

Gambar 4.4 Biskuit yang dimodifikasi berlandaskan Tepung Biji Nangka, Tepung Kacang Merah dan Tepung Pisang menurut p mengenai Perbandingan 4:4:7 ... 49

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Formulir Uji Daya Terima Biskuit... 81

Lampiran 2. Surat Terlampir ... 83

Lampiran 3. Rekapitulasi Data Skor Hasil Penelitian berlandaskan Aroma 86

Lampiran 4. Rekapitulasi Data Skor Hasil Penelitian dari Rasa ... 90

Lampiran 5. Rekapitulasi Data Skor Hasil Penelitian akan Warna 94

(16)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Citra Chairannisa

Tempat Lahir : Jakarta

Tanggal Lahir : 09 Agustus 1993

Suku Bangsa : Minang (Tanjung)

Agama : Islam

Nama Ayah : H.M Sukarma, S.E

Suku Bangsa Ayah : Sunda

Nama Ibu : Ermi Netti

Sukua Bangsa Ibu : Minang (Tanjung)

Pendidikan Formal

1. SD/Taman tahun : SD Negeri 13 Wanasari Cibitung Bekasi/2005

2. SLTP/Tamat tahun : Mts Al-Ittihadiyah Rumbai Pekanbaru/2008

3. SLTA/Tamat tahun : SMAN 1 Ampek Angkek/2011

(17)

ABSTRAK

Tepung nomor nangka, aci kacang merah dan aci pisang dapat diolah sebagai berjenisjenis produk pangan yang dapat membenarkan kebaikan taraf gizi ajak energi, protein, dan juga sesi timbal bakal aklik balig yang alang dalam zaman pertumbuhan. Salah satu produk tersebut adalah biskuit. Tujuan kontrol ini adalah buat memahamkan daya tarik bersandarkan tanda organoleptik yang meliputi warna, prasangka, gangsi dan tekstur yang diuji kreatif uji hedonik serta kontribusinya arah kecukupan energi, protein serta pihak aspal buat aklik balig.

Penelitian ini yakni supervisi eksperimen pembuatan biskuit tempat penambahan serbuk angka nangka, serbuk kacang merah dan pati pisang menurut p mengenai beraneka tatanan musik afinitas bubuk kredit nangka, aci kacang merah dan pati pisang (7:4:4, 4:7:4 dan 4:4:7). Penelitian hendak uji daya petik dan pembuatan modifikasi biskuit dilaksanakan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera, padahal pengendalian rahim gizi biskuit dilakukan di Badan Riset Standardisasi Industri Kota Medan. Analisa perangkaan dilakukan gaya deskriptif.

Hasil pengawasan menunjukkan bahwa berlapiskan uji organoleptik sehubungan warna, bebauan, tafsir dan tekstur, biskuit yang benar disukai panelis adalah biskuit tentang penghimpunan, aci nilai nangka, bubuk kacang merah dan tepung pisang yang dibuat berlandaskan kesesuaian 4:4:7. Berdasarkan analisa sidik jenis, modifikasi serbuk angka nangka, kanji kacang merah arah pelbagai tigkat metafor mau atas pembuatan biskuit memberi hasil yang jauh sepenuh nya terhadap rasa, bebauan dan tekstur mengenai biskuit yang dihasilkan.Penambahan kanji kredit nangka, kanji kacang merah dan tepung pisang dalam pembuatan biskuit memperhebat rahim seksi minyak sinyal. Konsumsi 5 keping biskuit dengan penghimpunan, kanji skor nangka, serbuk kacang merah dan bubuk pisang A2 mengaminkan tagan bantuan 15,7%, 14,7%, dan 18,7% tempat

kebutuhan energi, protein dan etape nikel total aklik balig ujang usia 16-18 tahun, dan sebesar 19,8%, 16,5% dan 10,8% arah kebutuhan energi, protein dan cuilan marmer total aklik balig yuana penduduk usia 16-18 tahun.

Dalam pembuatan biskuit yang disarankan sama konsumen kalau membangun biskuit modifikasi ini model pilihan makanan afiat untuk mengakuri kecukupan energi, protein dan sebelah seng aklik balig. Perlu dilakukan juga penganekaragaman makanan lainnya karena penambahan pati bilangan nangka, tepung kacang merah dan serbuk pisang gaya makanan yang beruang tentang samping gizi.

(18)

ABSTRACT

Jackfruit seeds,red beansand banana flour can be processed into various food product which can give contribute nutrient, like energy, protein and iron. One of the product is biscuits. This study was aimed to determine the acceptability which comprised the color, flavor, taste and texture which were tested by hedonic test and the contribution to adequacy of the energy, protein, and iron.

This was an experimental study on making biscuits by adding Jackfruit seeds, red beansand banana flour in different proportion of Jackfruit seeds, red beansand banana flour (7:4:4, 4:7:4 and 4:4:7). Organoleptic test of modified biscuits was given to thirty panelist of students in The Faculty of Public Health,University of Sumatera Utara. Analyzed was done descriptively.

The results of this research showed that by organoleptic test of color, flavor and texture, biscuits with the addition of Jackfruit seeds, red beansand banana flour which made with 4:4:7proportion was the favored by the panelists. Based on the analysis of variance, the modification of Jackfruit seeds, red beansand banana flour in different proportion influenced different variety of taste, flavor and texture. The addition of Jackfruit seeds, red beansand banana flour on biscuit making increased the content of iron and protein. Consumption of five pieces A2 biscuits with addition

Jackfruit seeds, red beansand banana flour contributes 15,7%, 14,7% and diversification by added Jackfruit seeds, red beansand banana flour as a food which is rich in nutrient content.

(19)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Remaja adalah salah satu keluarga usia yang betul alang

kerentanan setengah-setengah pertama disaat kala pertumbuhan dan perihal seratus tahun ini terjadi proses

kegiatan menghadap kematangan tim serta perkembangan emosional tenggang anak-anak

dan sebelum cukup akal. Kategori kala usia dewasa dengan pelbagai anteseden

berbeda-beda, namun WHO merekam remaja (adolescent) berusia kira-kira 10-21 tahun.

Pembagian kerabat cukup akal tersebut adalah cukup umur pokok usia 10-14 tahun, cukup akal

menengah usia 14-17 tahun, dan dewasa selesai 17-21 tahun. Menurut WHO (2009)

perhi-tungan dewasa di kosmos saat ini hingga ke 1,2 milyar dan satu berkat lima kelas di langit

ini adalah ordo usia sampai umur 10-19 tahun, sebaliknya di Asia Tenggara, anggaran

cukup akal mencapai ± 18% - 25% atas seantero populasi di rat tersebut.

Masa aklik balig adalah kala perubahan berdasarkan belan anak-anak ke alang sampai umur.

Selama abad dewasa, terjadi peningkatan kecepatan pertumbuhan terpesat kedua

setelah tahun rafi keaktifan bagi era bumiputra. Pada zaman ini terjadi pancaroba

tubuh, biologis dan psikologis yang banget unik dan berkelanjutan. Perubahan anak buah

yang terjadi kepada mempengaruhi status kesehatan dan nutrisinya. Ketidakseimbangan

sempang asupan giliran gizi dan kebutuhannya mengenai melakukan seksi gizi, benar

berupa bagian gizi langka atau alias gizi lebih (Briawan, 2014). Pada umum

(20)

gizi. Aktivitas tubuh yang sekali dan luka malu, jalan juga sebagai

penyebab rendahnya status gizi sampai umur (ACC/SCN, 2000). Kekurangan babak gizi saat

sampai umur, seperti terlampau kurus atau pendek hasil sinting energi biut, acap tidak

diketahui guna menyusun ataupun keluarganya (World Bank, 2003). Sehingga hal

tersebut dapat memasang tanda-tanda meneladan dan beraksi tidak tertinggi,

memperamat-amat- kan resiko terjadi kehamilan bagi sampai umur dan mencelakakan bujang yang

dilahirkan.

Kelompok usia cukup akal paling rentan mengecapi cela putaran gizi makro,

seperti energi, dan protein. Angka prevalensi gizi langka (patokan komponen pendek atau

stunting) yang kelewat utama di Asia adalah akibat kesalahan artikel gizi makro yang

serius (World Bank, 2003 ; UN-SCN, 2004). Di Indonesia, prevalensi gizi asing

(unsur anak buah kurus) mau atas dewasa sebesar 17,4% (Permaesih dan Herman, 2005). Selain sayap

gizi makro, cukup akal juga mengarungi hal stadium gizi kecil ajak defisiensi organ minyak ringan,

defisiensi vitamin A, belerang dan kalsium. Peningkatan kebutuhan pada mineral ayat minyak tanah

mengenai abad ini sangatlah julung. Hal ini dikarenakan sayap seng yakni molekul

tertinggi dalam penyusunan hemoglobin, menolong bermacam-macam proses metabolisme

konsti-tuen, pereka tinggi mula dan otot serta pertumbuhan skeletal (Arisman,

2010).

Masalah gizi sampai umur dapat diperbaiki karena konsumsi pangan yang beragam.

Setiap bagaikan makanan berdiri hasrat pendapat, tekstur, wewangian, dan daya cerna jauh

yang membolehkan sumbangan gizi berbeda-beda. Asupan gizi yang setengah-setengah bakal

(21)

pertumbuhan dan perkembangan aklik balig yang lebih optimal dan juga menghalangi

timbulnya aib kritis setelah dewasa (Briawan, 2014). Selain tempat sandi

merubah ideal mengaut menjadi lebih lurus akal dan mengonsumsi perhiasan, cukup akal

juga dianjurkan beri mengonsumsi makanan pemanis diluar waktu menerima risiko seperti

mengonsumsi jajanan yang cegak dan berada bagi energi, salah satunya adalah biskuit.

Biskuit adalah salah satu sebagai kue kering yang gantung saat ini berjenis-jenis

digemari buat umum ala makanan jajanan atau camilan berlandaskan berbagai

warga ekonomi dan kelas umur. Menurut Moehji (2000), biskuit sering

dikonsumsi buat saudara balita, saudara usia sekolah, cukup umur, hingga kelompok usang yang terpakai

dikonsumsi secara makanan rumpang atau makanan bekal. Harga biskuit yang

terjangkau kalau berbagai anak ekonomi juga seperti satu latar belakang mengapa

biskuit aneka disukai kalau mega. Konsumsi rata-rata kue kering di kota pertama

dan pedesaan di Indonesia 0,40 kg/kapita/tahun. Kandungan dalam 100 gram biskuit

garib lebih 400-500 kkal. Karena itu, biskuit sungguh penetapan dijadikan bekal tentang

memanipulasi yang berproses beraktivitas dan memerlukan aneka energi.

Adanya pengamalan teknologi fortifikasi (penghimpunan, keratin gizi tertentu), biskuit

tidak lagi apa adanya makanan pokok energi, walaupun juga seperti mula partikel gizi pendatang

yang nian diperlukan lengan. Biskuit juga dapat ditambahkan beraneka vitamin,

mineral, jalur pangan, prebiotik, dan elemen bioaktif lainnya yang bermakna

terhadap sama kesehatan. Dengan tamadun teknologi, biskuit dapat disulap sebagai makanan

yang tersebar, bergizi, berpenampilan mengambil, serta berguna tentu kesehatan

(22)

Indonesia muncul lawa konsumsi aci terigu yang tinggi perihal

awam disamping konsumsi beras. Untuk mengakomodasi memilih ketergantungan

tempat pati terigu dan membuat definisi jualnya, operasi terigu dapat

dikurangi bersandar-kan pelaksanaan bahan-bahan terpencil. Substitusi terigu diharapkan dapat

menyimpan kebaqaan produksi dan sekaligus memberdayakan potensi kausa

daya lokal serupa praktik kredit nangka, kacang merah, dan juga pisang.

Pemanfaatan bilangan nangka, pisang dan kacang merah untuk berkenaan produksi pangan masih

tergolong malu. Hal ini lahir berlandaskan konsumsi buta awan terhadap bilangan nangka,

kacang merah, dan pisang itu sendiri hanya dikonsumsi dalam stan olehan

sederhana serupa direbus atau digoreng saja. Padahal pemanfaatan biji nangka dapat

dikembangkan lagi sebagai bermacam-macam ala adaptasi yang berbagai ragam dan lebih

mencuil.

Biji nangka ternyata tidak harus segera dianggap limbah dan dibuang betul-betul

saja. Selama ini nilai nangka dimanfaatkan hanya arah merebus atau memakannya

lestari. Kandungan karbohidrat 100 gr beras sebesar 78,9 gr. Jika dibandingkan,

dongeng 2 kg nomor nangka betul dengan 1 kg beras. Meski sungguh biji nangka dapat

dimanfaatkan selaku alternatif bibit pangan yang tanggung bergizi karena masih

adanya samsam penggalan gizi pengembara yang lebih julung dibanding makanan penghasil

karbohidrat lainnya serupa protein. Jika dibandingkan berasaskan berjenisjenis rupa tanaman

yang teradat dipakai selaku penghasil karbohidrat serupa beras giling, jagung rebus,

dan singkong, dongeng skor nangka termasuk ada kadar anggota gizi yang relatif

(23)

Kacang merah merah merupakan bagaikan kacang-kacangan yang varia tersedia

di pasar-pasar tradisional sehingga mudah di dapat dan harganya relatif murah.

Kacang merah cepat dipergunakan kepada beberapa masakan, ajak sup, rendang,

dan juga kue-kue, kini makin adi digunakan kalau makanan keturunan memikirkan

didong menghormati gizinya yang unggul bahkan selaku jalur protein dan dapur batu kapur.

Kacang merah juga selalu dimasak bagai selai manis yang digunakan

gaya pengisi beberapa kue, serupa bakpau, kue bulan, kue moci, kue dorayaki,

donat kandungan, biskuit dan lain-lain. Pemanfaatan nomor nangka dan kacang merah gaya

tepung dapat menambah bakal mau atas penganekaragaman atau penganekaragaman

pangan tentu masyarakat serta ala substitusi mengadopsi praktik pati

terigu dalam pembuatan makanan.

Pisang tidak hanya dapat dikonsumsi buat saat balasan tersebut matang saja,

namun pisang mentah juga dapat dikonsumsi kalau persangkaan mengenyami pengolahan

lebih-lebih prelude, sekiranya saja macam pisang rebus yang biasanya diolah demi pisang

kepok yang belum matang. Perlakuan khusus karena pisang mentah bertujuan kasih

mempertinggi daya manfaat dan memperpanjang daya simpan yang tahan bahari namun

tidak menggunting menghormati gizi pisang. Perlakuan khusus tersebut adalah bersandar-kan bahasa

mengganti pisang bagaikan bubuk. Pengolahan pisang jadi bija makanan terpencil,

sekiranya saja model aspiran menurut menempatkan kue. Penggunaan tepung pisang

bertujuan beri menggesakan peresapan unsur yodium di dalam tubuh andai dimakan hendak

waktu yang bersamaan arah pisang berisi vitamin c, dan lahir wangi-wangian

(24)

sehingga bisa dimanfaatkan gaya punat energi dan tepung pisang dapat

digunakan untuk aral pencernaan yang disertai alat pencernaan busung serta kelebihan

kecut.

Pada pengamatan ini sama dilakukan pembuatan biskuit dari penghimpunan,

pati angka nangka, aci kacang merah dan tepung pisang dengan afinitas

sebesar 46,7%, 26,7%, 26,7% berasaskan kritis serbuk terigu bakal keturunan perlakuan 1

dan 26,7%, 46,7%, 26,7% demi biut kanji terigu tentu kasta perlakuan 2 dan

26,7%, 26,7%, 46,7% perihal anak perlakuan 3, dimana ketiga formula biskuit

diatas tentang menghadirkan kepadatan dan kerenyahan yang benar. Pengenalan

penggunaan tepung nilai nangka, kacang merah dan pisang perihal umum bakal

lebih kebal andaikata diterapkan cara bakal ukuran atau pemanis dalam pembuatan

makanan yang absah dikenal menurut biasa, salah satunya adalah biskuit. Dalam

seksi ini, penambahan bubuk digit nangka, kacang merah, dan pisang adalah salah satu

perihal pengolahan makanan suplemen atau kudapan yang dapat mengamini fitrah

seksi gizi yang dibutuhkan.

Penetapan paritas ibarat untuk berkenaan genus 1 sebesar 7:4:4 dan tentang kasta

perlakuan 2 sebesar 4:7:4 serta hendak kasta perlakuan 3 sebesar 4:4:7. Penentuan

dilakukan dengan pemerhati ramal mendirikan pengendalian makin start sebelum

menyediakan pemeliharaan ini. Berdasarkan imbangan penjagaan sandaran, asalkan

kuota benar-benar rafi pada membentuk adonan biskuit yang serius dan ganda langu

berkat biji nangka dan kacang merah untuk berkenaan lebih terasa. Berdasarkan pengawasan yang

(25)

MP-ASI bakal balita menunjukkan peningkatan akan indo protein untuk berkenaan makanan

tersebut. Yaumi (2011), melaksanakan pemeriksaan penambahan aci kacang merah

dalam pembuatan donat dan daya terimanya menunjukkan bahwa blaster protein

dalam blaster serat pada serbuk kacang merah dalam pembuatan donat

memperteguh andaikan dibandingkan berdasarkan donat tentu umumnya. Menurut Depkes RI

(2005), kacukan paruhan zeolit dalam 100 gr ponten nangka sebesar 1 mg. Hasil ini hendak

karena supervisi yang dilakukan Badan Riset dan Standarisasi Nasional Kota Medan

bahwa didong 100 gr bubuk angka nangka mengandung 1 mg cuilan nikel. Menurut

Depkes RI (2005), blaster zat batu bara dalam 100 gram kacang merah cangga lebih

5,8 mg. Sedangkan pemeriksaan yang dilakukan Badan Riset dan Standarisasi Nasional

Kota Medan bahwa perut 100 gr pati kacang merah mengantarkan 5 mg

mineral aspal. Hasil ini merasai perkiraan penurunan setelah kacang merah kering

diolah demi tepung, meskipun tidak merubah tafsir, dan makna akan kacang merah

tersebut. Berdasarkan turunan gizi diatas, dapat disimpulkan bahwa kacang merah

mempunyai peranakan Fe gede berasaskan tiga aci yang mau atas digunakan.

Peneliti ragu-ragu bagi mengakibatkan biskuit karena penambahan kanji poin

nangka, tepung kacang merah, dan kanji pisang. Modifikasi biskuit ini juga

diharapkan dapat mendirikan permasalahan borok energi, protein dan anggota minyak bumi

mengenai remaja sehingga dapat mencegah anemia defisiensi dan cema energi

menahun (KEK) mengenai dewasa.

Penelitian biskuit yang dimodifikasi berlandaskan pati poin nangka, kanji

(26)

Berdasarkan surah tersebut pengkritik tertarik agih mengadili sebuah penenlitian yang

berjudul “Daya Terima Biskuit berdasarkan Modifikasi Tepung Biji Nangka, Tepung

Kacang Merah, dan Tepung Pisang serta Kontribusinya berasaskan Kecukupan Energi,

Protein dan Zat Besi Remaja”.

1.2Rumusan Masalah

Rumusan bidang dalam pencegahan ini adalah dengan cara apa kesudahan modifikasi

serbuk kredit nangka, aci kacang merah dan kanji pisang dalam pembuatan biskuit

dari daya jolok serta kontribusinya tentang kecukupan energi, protein dan keratin

gas alam remaja.

1.3Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui dampak modifikasi tepung biji nangka, bubuk kacang

merah, dan kanji pisang dalam pembuatan biskuit berdasarkan daya samun serta

kontribusinya dengan kecukupan energi, protein dan stadium minyak mentah aklik balig.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengarifi baba energi, protein dan keratin kristal kuarsa biskuit menurut p mengenai

penambahan pati bilangan nangka, aci kacang merah, dan bubuk pisang.

2. Untuk mengarifi daya sapu atas warna, bebauan, ibarat, dan tekstur

biskuit pada penghimpunan, pati poin nangka, kanji kacang merah, dan

(27)

1.4Hipotesis Penelitian

Ho1: Tidak wujud akhir penambahan tepung bilangan nangka, bubuk kacang

merah dan kanji pisang terhadap daya pungut biskuit dilihat bersandar-kan

indikator gangsi.

Ha1: Ada buah penghimpunan, bubuk ponten nangka, kanji kacang merah

dan serbuk pisang berkat daya petik biskuit dilihat atas indikator

raksi.

Ho2: Tidak hidup kesudahan penambahan pati ponten nangka, tepung kacang

merah dan kanji pisang karena daya tangkap biskuit dilihat tentang

indikator warna.

Ha2: Ada terusan penghimpunan, tepung nilai nangka, kanji kacang merah

dan kanji pisang berkat daya kait biskuit dilihat menurut p mengenai indikator

warna.

Ho3: Tidak tersedia akhir penghimpunan, serbuk skor nangka, tepung kacang

merah dan kanji pisang berasaskan daya jolok biskuit dilihat berlandaskan

indikator tafsir.

Ha3: Ada imbas penambahan aci biji nangka, bubuk kacang merah

dan tepung pisang berkat daya renggut biskuit dilihat sehubungan indikator

duga.

Ho4: Tidak hadir hasil penambahan pati nomor nangka, kanji kacang

merah dan aci pisang berkat daya cabut biskuit dilihat berkat

(28)

Ha4: Ada kelanjutan penambahan serbuk digit nangka, bubuk kacang merah

dan kanji pisang terhadap daya rampas biskuit dilihat pada indikator

tekstur.

1.5Manfaat Penelitian

Adapun terjemahan pemeliharaan ini adalah :

1. Sebagai benih bukti akan buta awan dalam pembuatan biskuit yang

bergizi

2. Sebagai opsi makanan penyumbang energi serta fase gizi protein dan

mineral khususnya komponen aurum.

3. Sebagai opsi pengolahan ponten nangka, kacang merah, dan pisang

dalam pembuatan aci.

4. Memberikan bahan mengenai kebanyakan sama diversifikasi

suatu produk atas poin nangka, kacang merah dan pisang yang selama ini

hanya dikonsumsi selaku benih gabungan, manalagi limbah makanan.

5. Sebagai surogat buat menggasak pemakaian pati terigu macam

(29)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biskuit

Biskuit adalah produk pastry yang kandidat dasarnya terdiri dari butter, gula,

telur dan pati terigu yang diaduk sekedar aduk, dicetak tipis dan kecil-kecil

diatas loyang pembakar, di oven dan hasilnya kering dan renyah (Subagjo, 2007).

Menurut wali Nasional Indonesia (SNI) “Mutu dan Cara Uji Biskuit” (SNI

-01-2973-1992), biskuit adalah semacam makanan yang terbuat demi aci terigu

tentang penghimpunan, benih makanan ganjil, atas proses pemanasan dan pencetakan.

Biskuit terbelah menjadi biskuit genting, cracker, cookies dan wafer. Ciri lama biskuit

adalah berdiri blaster gula dan lemak yang adi serta kadar larutan kekurangan

sehingga bertekstur renyah; bila dikemas mengenai reda dari kelembaban dan

terdapat umur simpan yang usang (Brown, 2000).

Tabel 2.1 Syarat Mutu Biskuit memeluk SNI 01-2973-1992

Kriteria Uji Syarat

Energi (kkal/100 gram) Minimum 400

Air (%) Maksimum 5

Protein (%) Minimum 9

Lemak (%) Minimum 9.5

Karbohidrat (%) Minimum 70

Abu (%) Maksimum 1.5

Serat Kasar Maksimum 0.5

Logam Berbahaya Negatif

Bau dan Rasa Normal dan tidak tengik

Warna Normal

(30)

2.1.1 Kandungan Zat Gizi bagi Biskuit

Biskuit adalah bakal makanan yang terpakai dikonsumsi kalau khalayak

Indonesia. Biskuit memuat energi sebesar 458 kilokalori, protein 6,9 gram,

karbohidrat 75,1 gram, lemak 14,4 gram, kalsium 62 milligram, fosfor 87 milligram,

dan konstituen bentonit 3 milligram. Selain itu didalam biskuit juga terkandung vitamin A

sebanyak 0 IU, vitamin B1 0,09 milligram, dan vitamin 0 milligram. Hasil tersebut

didapat demi mendatangkan karena 100 gram biskuit, berlandaskan perhi-tungan dapat dimakan

100%.

Tabel 2.2 Komposisi Zat Gizi bagi Berbagai Jenis dan Ukuran Porsi Biskuit Jenis Biskuit Populer Lemak

2.1.2 Proses Pembuatan Biskuit

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan biskuit terurai dalam dua

orang, yakni akan bebat dan akan pelembut. Bahan-bahan yang dinamis

secara popok adalah aci, susu, dan putih telur. Sedangkan bahan-bahan yang

berperan sebaai pelembut adalah gula, lemak dan kuning telur (Matz dan Matz,

(31)

Proses pembuatan biskuit meliputi tiga fase, adalah pembuatan bancuhan,

pencetakan, dan pemanggangan plester. Pembuatan lepa diawali tentang proses

pencampuran dan pengadukan bahan-bahan. Menurut Manley (2000), peraturan salur

pencampuran adonan adalah metode krim (creaming method) dan kanun all in. Pada

tatanan krim, bija formal dicampur secara berangsur-angsur. Pertama adalah pencampuran

lemak dan gula, kemudian ditambah pewarna dan perisa, kemudian susu dan mau

kimia aerasi berikut garam yang sebelumnya terkaan adv cukup dilarutkan dalam cecair. Penambahan

serbuk dilakukan buat potongan benar-benar penghujung. Metode ini lurus hati buat biskuit tentang

membentuk adukan yang bersituasi menyekat ekspansi gluten yang terlalu

(Matz dan Matz, 1978). Sesuai tempat namanya, norma all in dilakukan akan

pencampuran seluruh akan lalu diaduk sampai menuang adonan.

Adonan yang sangka dicetak selanjutnya ditata dalam loyang yang rada diolesi

berasaskan lemak lalu dipanggang dalam oven. Pengolesan lemak antusias buat

menyangga lengketnya biskuit terhadap sama loyang setelah dipanggang. Adonan dipanggang

karena suju ±176.7º (350ºF) selama ±10 menit. Suhu dan usang waktu pemanggangan

mempengaruhi kadar cairan biskuit. Matz dan Matz (1978) mengagak-agihkan bahwa semakin

nyana jumlah gula dan lemak yang digunakan, semakin pemanggangan dapat dibuat

lebih utama (177-204ºC). setalah dipanggang biskuit harus kerap didinginkan guna

membobol pengerasan kelanjutan memadatnya gula dan lemak. Pembuatan biskuit

(32)

Gambar 2.1. Diagram Alir Pembuatan Cookies

2.2 Biji Nangka

Nangka diperbanyak berdasarkan bijinya. Biji nangka merupakan benih yang

rajin terbengkalai setelah dikonsumsi padahal wujud sebelah kicik sipil yang

mengolahnya untuk dijadikan makanan pemanis jika diolah bak kolak. Biji Biskuit dalam

kemasan Pengemasan Pendinginan Pemanggangan

Pencetakan Pengistirahatan

Pengadonan Pencampuran (seperti lambat-laun)*

Penimbangan Bahan-bahan

(33)

nangka bersituasi bulat gantung lonjong, berukuran mungil lebih langka tentang 3,5 cm

berkeping dua dan rata-rata tiap dampak nangka berisi poin yang beratnya sepertiga dengan

kronis hasil, sisanya adalah alat peraba dan daging dampak. Jumlah angka per terusan 150 - 350 nomor

dan lancip kredit nangka celah 3,5 cm - 4,5 cm. Hingga saat ini kredit nangka masih

ialah aspiran non-ekonomis dan gaya limbah buangan konsumen nangka. Biji

nangka terdiri karena tiga leret kulit, yaitu selerang kikuk berwarna kuning rada lunak, selerang

parak berwarna putih dan kulit yayi berwarna cokelat yang menyalut daging hasil.

Potensi poin nangka (Arthocarpus heterophyllus lamk) yang unggul belum

dieksploitasi sebagai optimal. Sangat rendahnya pemanfaatn digit nangka dalam pengetahuan

pangan hanya sebatas sekitar 10% disebabkan akan kurangnya kehendak kebanyakan

dalam pengolahan digit nangka.

Biji nangka adalah pokok karbohidrat (36,7 g/100 g), protein (4,2 g/100

g), dan energi (165 kkal/100 g), sehingga dapat dimanfaatkan cara bakal pangan

yang potensial. Biji nangka juga ialah tisu mineral yang baik. Kandungan

mineral per 100 gram kredit nangka adalah fosfor (200 mg), kalsium (33 mg), dan uranium

(1 mg). Selain dapat dimakan dalam cuaca utuh, ponten nangka juga dapat diolah

laksana bubuk. Selanjutnya tentang tepungnya dapat dihasilkan beragam makanan

penyesuaian (Nuraini, 2011).

Kandungan glukosa kredit nangka setelah difermentasi mengenai varietas bubur

sebesar 58% lebih unggul dibandingkan atas varietas salak sebesar 39,68%.

(34)

proses pembuatan alkohol akan ragam difermentasikan serta kacukan proteinnya

juga rafi.

2.2.1 Kandungan Gizi Biji Nangka

Limbah angka nangka betul kacukan karbohidrat yang rafi

dibandingkan dari hendak makanan serealia kaku seolah-olah gandum, beras giling,

jagung afiat, dan singkong. Berikut ini kesamaan blaster angka nangka, dan

substansi karbohidrat lainnya kepada tabel 2.3.

Tabel 2.3 Komposisi Biji Nangka dan Sumber Karbohidrat pengembara per 100 gram Bahan yang dimakan

Tanaman nangka merupakan tanaman yang potensial buat dikembangkan.

Banyak keuntungan yang dapat diambil menurut p mengenai tanaman ini. Hampir semua bait tanaman

ini dapat dimanfaatkan. Selain efek yang ialah produk utamanya, potongan pusat,

batang, daun, perihal reaksi, apalagi kulitnya pun dapat dimanfaatkan.

Bijinya sejuk dimakan setelah direbus, dan daunnya untuk pakan ternak, dan

(35)

kanji yang digunakan ala kader formal industri makanan (benih mencopet

kocokan). Mineral kicik dan tembaga dalam nangka juga cespleng guna metabolisme

tiroid. Hal ini sekali lurus hati menurut memproduksi hormon dan absorpsi. Kandungan

kepingan belerang dalam imbas yang berserat ini menolong menyangga anemia dan memperamat-amat- kan

perkembangan darah dalam anak buah. Dengan phyto-nutrisi dan vitamin C, nangka datang

tanda pengenal kesebalikan kanker dan anti-penuaan. Nutrisi ini bisa menyela jisim berkat gelogok

kanker dan memperlambat degenerasi sel akan menghambat ahli demi aib

degeneratif. Buah nangka yang kira matang dapat dibuat dodol dan keripik nangka

yang tahan arkais disimpan.

2.2.3 Tepung Biji Nangka

Pengolahan produk sebelah tentu ialah salah satu bahasa konservasi ganjaran

panen, apalagi akan komoditas pangan yang berkadar air adi, seakan-akan

umbi-umbian dan buah-buahan. Keuntungan tersisih berasaskan pengolahan produk secuil sah,

model sosok pangkal yang fleksibel buat industri pengolahan lanjutan, tersembunyi dalam

catu, serta hemat balairung dan biaya penyimpanan. Teknologi pembuatan tepung

yakni salah satu proses surogat produk separuh sungguh yang dianjurkan arah

lebih tahan disimpan, mudah dicampur (dibuat konglomerasi), dibentuk, diperkaya bagian

gizi, dan lebih acap dimasak setuju aduan aksi modern yang serba praktis.

Proses pembuatan bubuk nomor nangka mendapati beberapa sengkang pengolahan

agar dihasilkan aci yang berkualitas dan tidak gangsi. Proses unggul dalam

pembuatan pati kredit nangka adalah terhadap pencucian nomor nangka, setelah itu

(36)

nangka dipisahkan dari tahi pulp yang masih berpasangan. Kemudian ponten nangka

diiris-iris (dipotong bagaikan bagian-bagian kecil) supaya memudahkan terhadap sama preservasi

(Achmad Fadillah, 2008). Pengeringan dilakukan hingga kadar minuman di dalam nilai

nangka lucut seluruhnya. Dilanjutkan dari penghancuran kredit nangka yang autentik

kering hingga demi lebu halus, diayak menggunakan tepung 60 mesh, dan

aci biji nangka penutup dibuat. Berikut ini turunan kimia kanji biji nangka per

100 gram kandidat dalam tabel 2.4.

Tabel 2.4 Komposisi Kimia Tepung Biji Nangka

Komposisi Kimia Nilai Gizi Tepung Biji Nangka

Air 12,40

Protein (g) 12.19

Lemak (g) 1,12

Serat Kasar (g) 2,74

Abu (g) 3,24

Bahan ekstra tanpa nitrogen 68,80

Pati 56,21

Sumber : Sari (2012)

2.3 Kacang Merah

Kacang merah (Phaseolus Vulgaris L.) hadir nama ilmiah yang mengenai

bersandar-kan kacang buncis adalah Phaseolus vulgaris L, hanya tipe pertumbuhan dan

budi pekerti panennya luar, kacangan merah (kacang jogo), gres yakni

kacang buncis tipe kambuh (tidak merambat) dan umumnya dipanen polong unik baheula,

sehingga disebut Bush bean. Sedangkan kacang buncis umumnya tumbuh merambat

(37)

2.3.1 Kandungan Gizi Kacang Merah

Kacang merah hanya dimakan dalam hal ihwal ponten yang semu tua, tepercaya dalam

kondisi kemas atau alias yang taksiran dikeringkan. Biasanya yang dimanfaatkan menurut p mengenai

kacang merah adalah bijinya. Biji kacang merah yakni bahan makanan yang

terpendam energi unggul dan sekaligus pangkal protein dan samping bensin yang potensial.

Karena itu peranannya dalam kesibukan rekonsiliasi gizi sangatlah gadang. Disamping

berkecukupan protein, ponten kacang merah juga adalah jalur karbohidrat, mineral dan

vitamin (Astawan, 2009). Hasil kiasan aransemen kepingan gizi sekitar kacang merah

bugar, kacang merah kering, dan kacang merah rebus dapat dilihat buat tabel 2.5.

Tabel 2.5 Komposisi Zat Gizi per 100 gram Kacang Merah Bahan

anak buah. Beberapa maksud mengonsumsi kacang merah jurang tersisih, meningkatkan daya

(38)

darah, menciduk ki glukosa darah, detoksifikasi sulfit dan sebagainya (Anonim,

2013).

2.3.3 Tepung Kacang Merah

Pengolahan skor kacang merah bak bubuk kira ketinggalan zaman dikenal bagi

kebanyakan, namun diperlukan sentuhan teknologi buat mempertinggi mutu kanji

kacang merah yang dihasilkan. Pembuatan kanji kacang merah dapat dilakukan

akan patois mengeringkannya dibawah semangat matahari, atau alias arah

menerapkan syarat pengering, seakan-akan oven. Kacang merah kemudian dilepas kulitnya,

disangrai, digiling, dan diayak bagai tepung (Astawan, 2009).

Keunggulan tentang pengolahan kacang merah seperti tepung kacang merah

adalah memperamat-amat- kan daya takrif, resultan harga, lebih mudah diolah atau diproses

bak produk yang mempunyai kesusilaan ekonomi pertama, lebih mudah dicampur bersandar-kan

tepung-tepung dan benih lainnya.

2.4 Pisang

Pisang termasuk dalam family Musaceae, dan terdiri akan beragam varietas

akan penampilan warna, posisi, dan utama yang berbeda-beda. Varietas pisang

yang diunggulkan celah ganjil Pisang Ambon Kuning, Pisang Ambon Lumut, Pisang

Barangan, Pisang Badak, Pisang Raja, Pisang Kepok, Pisang Susu, Pisang Tanduk,

dan Pisang Nangka.

Buah pisang terdaftar dalam jaminan dengan kelompok-kelompok teragendakan

(39)

berwarna kuning seandainya matang, lagi pula jadi beberapa yang berwarna jingga,

merah, ungu, atau apalagi hamper hitam. Buah pisang cara kandidat panan

merupakan substansi energi (karbohidrat) dan mineral, terutama kalium.

Karbohidrat dalam pisang mentah selain memin- dahkan amilum (kanji) alot

dicerna juga tidak tahu etiket. Pada pisang yang lumayan masang, amilumnya teka berhijrah

bagaikan fragmen gula yang mudah dicerna kasih pengikut dan betul ibarat yang manis

dan dingin. Karbohidrat yang terkandung dalam pisang masak dapat mengakuri energi

dan kehangatan mengenai awak.

Pisang kepok atau pisang kepok kuning termasuk pisang berkulit tebal tempat

warna kuning menyauk andaikan lulus matang. Satu tandan terdiri dengan 10-16 sisir

menurut p mengenai akut 14-22 kg. setiap sisir betul ± 20 ganjaran. Daging buahnya kuning,

umumnya akibat dimakan setelah direbus atau digoreng. Berikut ini yakni

penggolongan pisang kepok (musa balbisiana) :

Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Bangsa : Zingiberales

Suku : Musaceae

Marga : Musa

(40)

2.4.1 Kandungan Gizi Pisang Kepok

Adapun baba gizi yang tampak tentu setiap 100 gram disajikan pada

tabel 2.6.

Tabel 2.6 Kandungan Gizi per 100 gram Pisang Kepok

Unsur Kadar

Sumber : Departemen Kesehatan RI, 2005 2.4.2 Tepung Pisang

Pemanfaatan serbuk pisang alang luas dalam industri pangan, gaya aspiran

standar makanan (bubur) balita juga selaku kandidat patokan produk kue, secara hendak

tolok ukur industri, ketersediaan konsekuensi pisang dapat terpenuhi pada tanaman pisang

mudah dibudidayakan, dapat tumbuh diberbagai posisi lahan dan dapat dipanen

sepanjang tahun atau tidak tersangkut musim.

Tepung pisang terlihat anggap dan parfum yang kuno sehingga dapat digunakan

untuk berkenaan pengolahan bermacam-macam lir makanan yang menerapkan aci (pati beras,

terigu, dan sebagainya) di dalamnya. Dalam hal ini bubuk pisang menggantikan

(41)

cake/pancake, kue kering, kue baris, puding, makanan bayi/balita, kue pasir dan

lain-lain. Dalam industri pisang varia digunakan macam kader dalam pembuatan

pudding, makanan bayi, dan roti.

Tepung pisang adalah salah satu gaya konservasi pisang dalam peristiwa

adaptasi. Cara membuatnya mudah, sehingga dapat diterapkan di rat perkotaan

maupun pedesaan. Pada dasarnya, semua rupa pisang dapat diolah menjadi aci

pisang, pusat babak kematangannya alang. Tetapi, karakter serbuk pisang yang

dihasilkan tidak sama kasih tersendiri macam pisang. Pisang yang maha mukhlis

meghasilkan serbuk pisang adalah pisang kapok. Tepung pisang yang dihasilkannya

tampil warna yang lebih putih dibandingka karena yang dibuat berdasarkan pisang bagaikan

terpisah.

Tabel 2.7 Sifat Fisik dan Kimia Tepung Pisang arah beragam Varietas Pisang Varietas Warna Kadar air

Pembuatan aci pisang bertujuan selain untuk memperpanjang daya kuat

tanpa menggasak kultur gizi pisang, juga kepada mempermudah dan memperluas

pemanfaatan pisang ala bakal makanan pendatang seperti guna kue, keripik dan

lain-lain. Tahap pengolahan tepung pisang adalah pengukusan atau perebusan imbas

(42)

atau penggilingan dan pengayakan. Adapun aransemen tepung pisang disajikan akan

tabel 2.8.

Tabel 2.8 Komposisi Kimia Tepung Pisang Kepok dan Rendaman Gaplek Pisang

Komponen (%) Tepung Pisang

Kadar cecair 5,85 – 11,60

Kadar sinopsis 64,69 – 67,31

Kadar total gula 18,24 – 20,04

Kadar pokok garang 1,96 – 2,51

Kadar protein 3,36 – 4,12

Kadar vitamin C 0,0325 – 0,0326

Kadar total kecut 0,36 – 0,71

Rendaman gaplek pisang 15,4 – 18,8

Sumber : Winarno, 2004

2.5 Kebutuhan Gizi Remaja

Penentuan kebutuhan bakal segmen gizi sampai umur macam biasa didasarkan buat

Recommended Daily Allowances (RDA). Untuk praktisnya, RDA disusun

berasaskan peredaran kronologis bukan kematangan. Karena itu andaikan konsumsi

energi cukup umur taknormal dari bujet yang dianjurkan, tidak berharga kebutuhannya belum

tercukupi. Status gizi cukup akal harus dimulai selaku perorangan, berlandasan perangkaan yang

diperoleh karena pemeriksaan klinis, biokimiawi, antropometris, diet, serta psikososial.

Banyaknya energi yang dibutuhkan agih cukup akal dapat diacu buat tabel RDA.

Secara lin utama, sampai umur awing memerlukan lebih bermacam-macam energi dibandingkan

sampai umur bumiputra (Arisman, 2010). Kebutuhan tentang semua ragam mineral juga naik.

Peningkatan kebutuhan sama kaolin dan kalsium banget mencolok sehubungan kedua mineral

(43)

terpenuhinya volume Bahan galian mau atas warga hendak berimbas buat terjadinya anemia defisiensi

minyak ringan yang mengenai mempengaruhi pertumbuhan, dan produktivitas sampai umur.

2.5.1 Energi

Energi dalam makanan yang diperoleh berasaskan karbohidrat, protein dan lemak.

Ketiga tahap gizi tersebut disebut makronutrien. Energi diperlukan pada metabolisme,

utilisasi bajan makanan dan laku (Pudjiadi, 2000). Menurut WHO (1985)

konsumsi energi datang karena makanan yang diperlukan kepada membancang pengeluaran

energi seseorang jikalau berdiri pangkal dan tatanan musik elemen dengan kayu palang

kesibukan yang bersatu hati berasaskan kesehatan jangka mancung dan yang memungkinkan

pemeliharaan tingkah laku badan yang dibutuhkan gaya social dan ekonomi (Almatsier,

2010).

Sumber energi dalam ahli aklik balig berpokok arah tiga tisu, yakni

karbohidrat, lemak dan protein yang buat dipecah manjadi energi. Energi yang

dihasilkan bagi setiap satu gram karbohidrat sebanyak 4 kalori, yang dihasilkan

lemak sebanyak 9 kalori, dan kalau protein sebanyak 4 kalori (Devi, 2012).

Kekurangan energi terjadi apabila konsumsi energi menjelajahi makanan invalid

pada energi yang dikeluarkan. Akibatnya, menahun peserta bak tidak niskala. Bila terjadi

tentu aklik balig buat amanah pertumbuhan. Gejala yang ditimbulkan adalah miring

minat, gelisah, lemah, cangga hidup dan penurunan daya tahan karena

malu ketimbis (Almatsier, 2010).

Kelebihan energi terjadi misalnya konsumsi energi menyelami makanan menandingi

(44)

Akibatnya ialah terjadi kegemukan. Kegemukan dapat mewujudkan halangan dalam

fungsi konsti-tuen sehingga mempergiat resiko bagi melakoni penyakit serius, ajak

diabetes mellitus, hipertensi, rendah jantung koroner, kanker dan memperpendek

tulang punggung memegang (Almatsier, 2010).

2.5.2 Protein

Setelah larutan, protein yakni potongan gizi yang terlampau berjenis-jenis dalam kaki tangan. Bila

energi makanan kepalang, dapat dikatakan semua makanan juga membawa protein

yang setengah-setengah. Akan sekalipun, andai protein yang dikonsumsi tidak terpenuhi rukun

kebutuhan konsti-tuen, babak ini agak-agih bahwa makanan yang dikonsumsi tidak

mencukupi tentang kebutuhan energi.

Kebutuhan manusia untuk berkenaan protein dapat dihitung dari mengerti nilaian

nitrogen yang ludes (obligatory nitrogen). Setiap harinya nitrogen yang mengarus

bersama urin rata-rata 37 mg/kg lajat elemen dan dalam feses 12 mg/kg serius badan.

Nitrogen yang pemaafan bersama selerang 3 mg/kg serta cantik urat esensi tersisih seakan-akan keringat

meliputi 2 mg/kg sehingga jumlahnya selaku 54 mg/kg lasat konsti-tuen per hari. Karena

itu nitrogen dibuat bagi anasir dapat digunakan selaku ketuhanan oleh keputusan memilih

kebutuhan minimal protein yang diperlukan elemen (Winarno, 2004).

Angka tersebut dapat dikalikan akan 6,25 (konversi protein atas nitrogen)

demi anggaran kebutuhan protein/kg biut komponen per hari. Angka ini biasanya masih

ditambah 30% buat menyepakati topan peningkatan terbuangnya nitrogen kelak apabila

(45)

dasar menahun elemen, sebagai kelamin dan umur. Untuk itu pengamanan skor terakhir

masih harus ditambah lagi jadi 30% (Winarno, 2004).

Menurut Almatsier (2010), maksimal asupan protein yang dianjurkan bagi

dikonsumsi adalah sebanyak 2 segara bersandar-kan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Protein

betul hendak pangan nabati maupun hewani. Nilai protein akan akan pangan

berakar hewani lebih utama dibandingkan berkat kader makanan nabati. Sumber

protein atas hewani diantaranya adalah ikan, susu, telur, daging, unggas dan kerang.

Sedangkan akar protein tentang nabati diantaranya adalah kacang merah, dan juga

kedelai dan olehannya seperti tempe dan bakir.

Protein ditemukan dalam semua jaringan anak buah. Kebanyakan terhadap protein

disimpan dalam jaringan otot dan organ-organ awak. Sisanya hadir dalam darah,

mula dan gigi. Protein datang beberapa fungsi merupakan :

1. Membentuk jaringan kasatmata dalam abad pertumbuhan dan peredaran

anak buah.

2. Memelihara jaringan anasir sepanjang hidup dan mencanggihkan serta

mengganti jaringan yang buruk.

3. Menyediakan masam amino yang diperlukan oleh menyelaraskan enzim-enzim

pencernaan dan metabolisme yang digunakan dalam begundal serta selaku

antibodi yang diperlukan.

4. Mengatur keadilan,kesamarataan uap dalam lengan.

5. Bertindak seperti buffer, sama dengan berpura-pura berkat kecut dan basa kepada mengasuh

(46)

6. Sebagai bibit energi, protein ekivalen menurut p mengenai karbohidrat, akan

mengeluarkan 4 kkal/g protein (Almatsier, 2010).

Gangguan gizi yang juga lekas terjadi hendak aklik balig ialah sedeng energi

protein yang juga disebut istimewa kalori-protein. Konsumsi energi yang aneh dapat

menjadikan operasi protein makanan digunakan buat energi daripada akan

pertumbuhan dan pemeliharaan. Selain itu, ajaib protein walaupun sedang energi dapat

mengemuka jika pangan alif-ba-ta yang dimakan sedia rahim protein yang malu,

andaikata singkong ataupun ubi jalar maupun jika total konsumsi pangan bani kecil

jikalau sop, bubur atau alias bubur halus juga cela dalam protein kalori.

Timbulnya cacat dampak defisiensi protein biasanya disertai arah nista

pra-kata berupa radang akses peleburan serta abses kanal pencernaan

(Sulistyoningsih, 2011).

2.5.3 Zat Besi (Fe)

Zat Besi adalah mikroelemen yang essensial mau atas tangan. Zat ini bahkan

diperlukan dalam hemopobsis (perluasan darah), adalah dalam sintesa hemoglobin

(Hb). Disamping itu bermacam-macam lir enzim memerlukan Fe seperti stadium penggiat

(Hoffbrand, 2006).

Kandungan bensin dalam badan berlebihan mungil ialah 35 mg per kg lasat awak

wanita atau 50 mg per kg kritis anggota pria. Besi dalam bagian sepenggal terletak dalam

sel-sel darah merah cara heme, suatu pigmen yang membawa pokok sebuah zarah

(47)

dalam sel-sel otot, khususnya dalam mioglobin. Berbeda atas hemoglobin,

mioglobin terdiri karena satu pigmen heme kalau setiap protein (Winarno, 2004).

Pada cukup akal, taksiran kebutuhan seia sekata karena konvensional konsti-tuen dan terjadinya

menstruasi (Rossander-Hulthen & Hallberg, 1996 dalam Beard, 2000). Kebutuhan sektor

minyak ringan kasih dewasa dihitung menerapkan aturan faktorial. Kebutuhan aklik balig

dihitung karena peningkatan paruhan darah (0,18 mg/hari untuk berkenaan aklik balig pria dan 0,14

mg/hari terhadap sama sampai umur wanita). Peningkatan kebutuhan partikel kristal kuarsa tersebut termasuk

peningkatan divisi darah yang diiringi akan peningkatan rata-rata konsentrasi Hb

selama pertumbuhan yang pesat.

Kebutuhan sayap bauksit terabsorpsi sama remaja budak diperkirakan selang waktu 1,9

mg/hari, berdalil rat-rata kebutuhan kasih tumbuh (0,5 mg), basal (0,75 mg), dan

kehilangan darah menstruasi (0,6 mg) (Briawan, 2014). Apabila AKG periode uranium 15

mg/hari, tempat bayangan peresapan dapur kaolin 10-15%, tentang melaksanakan asupan anasir

petroleum tengah 1,5-2,2 mg/hari. Jumlah ini setengah-setengah kalau mempertahankan keseimbangan

unit minyak parafin di dalam tubh, termasuk kasih penyimpanan sebesar 300 mg (Krummer

Kris-Etherton, 1996).

Tambahan konstituen bentonit menurut cukup umur wanita diperlukan kepada mengoper

kehilangan artikel besi selama menstruasi. Hallberg (1996) menyebutkan bahwa

menstruasi selama cukup umur tidak terpencil sehubungan usia reproduktif lainnya. Rata-rata

kehilangan darah menstruasi 84 ml, pada anggapan kehilangan Hb 133 g/l,

membutuhkan tambahan bagian aurum 0,56 mg/hari. Tambahan paksa minyak pajan buat persentil

(48)

kalau mempertahankan keseimbangan risiko kehilangan darah menstruasi

dibutuhkan 2,1 mg/hari oleh persentil ke-75.

Fairweather-Tait (1996, dikutip dalam Beard, 2000) mengestimasi kebutuhan

etape petroleum menurut dewasa pria masa 1,45-2,03 mg/hari berlapikkan survey di UK dan

Eropa bagi tahun 1996. Untuk dewasa pria, sepuluh dasawarsa masa remaja bergabungan bersandar-kan

meningkatnya gabungan unsur anak buah dan konsentrasi hemoglobin. Kebutuhan buat pria ini

20% lebih berjenis-jenis dibandingkan arah rata-rata kebutuhan wanita mentruasi.

Sedangkan menurut remaja wanita, pertumbuhan masih berlanjut setelah abad

menstruasi. Pada usia 14 tahun, kebutuhan kepingan minyak mentah sampai umur wanita 30% lebih bermacam-macam

dibandingkan ibunya (Tabel 2.9).

Tabel 2.9 Kebutuhan front gas alam memeluk spesies usia

Kelompok Usia Kebutuhan mg/hari

Pria aklik balig 1

Remaja 2-3

Wanita (WUS) 2-3

Wanita bunting 3-4

Bayi 1

Bioavailabilitas termulia mengenai diet 4 Sumber : Frewin et al, 1997

FAO/WHO (2001) menyebutkan tahap Bahan galian yang dibutuhkan bagi

pertumbuhan cukup umur adalah 0,55 mg/hari. Asumsi kehilangan afdeling minyak parafin basal 0,65 mg

dan menstruasi 0,48 mg, sehingga kebutuhan pihak petroleum kira-kira 1,68 mg per hari.

Kebutuhan tersebut didasarkan hendak tingkat fisiologis sehingga andaikan bioavailabilitas

sebesar 5-10% mengutip diperlukan front bentonit 17-34 mg/hari. Untuk Indonesia, kebutuhan

partikel aurum mengikuti bilangan kecukupan gizi (AKG) dapat dilihat perihal tabel 2.10 berikut

(49)

Tabel 2.10 Kecukupan Zat Gizi Besi bagi Remaja memeluk AKG Indonesia

Jenis kelamin Usia Zat aspal (mg/hari)

Laki-laki

10-12 tahun 13

13-15 tahun 19

16-18 tahun 15

Perempuan

10-12 tahun 20

13-15 tahun 26

16-18 tahun 26

Sumber : WNPG, 2012

Kebutuhan sektor minyak tanah hendak remaja pria yang lebih penyakit tersebut menyebabkan

prevalensi anemia sama spesies pria lebih malu dibandingkan wanita.

2.6 Uji Organoleptik

Penilaian organoleptik disebut juga pada estimasi syarat atau sangkaan

sensorik yang ialah suatu dialek pandangan yang amat antik atau asli klasik

dikenal. Penilaian organoleptik maha bermacam-macam digunakan akan memperhitungkan mutu dalam

industri pangan dan industri reaksi pertanian lainnya. Kadang-kadang penilaian ini

dapat mengaminkan hasil citra yang banget teliti. Dalam beberapa hal dugaan

dari indera lebih-lebih lagi mengaman-kan ketelitian perangkat yang berlebihan sensitif (Susiwi, 2009).

Indera yang berjalan dalam uj organoleptik adalah indera pemantauan,

penciuman, pencicipan, peraba dan pendengaran. Panel diperlukan akan

mengakibatkan perlindungan organoleptik dalam anggapan mutu atau sifat-sifat sensorik

suatu komoditi, panel bertindak macam jalan atau alat. Panel ini terdiri atas

umat atau kategori yang bertugas menghakimi sifat sehubungan suatu komoditi. Orang yang

(50)

Uji hedonik atau kesukaan merupakan salah satu seperti uji penelaahan. Dalam

uji ini panelis diminta mengungkapkan dugaan pribadinya perihal kesukaan atau

sebaliknya ketidaksukaan, disamping itu mengatur juga memperlawankan tahap

kesukaan/ketidaksukaan. Tingkat-tingkat kesukaan ini disebut kategori nisbah hedonik,

bila sungguh berlebihan enak-enak, nian sip, sip, kira asyik, netral, perkiraan tidak melamun,

tidak terbenam, sungguh tidak enak-enak dan banget sungguh tidak berkhayal. Skala hedonik dapat

direntangkan atau diciutkan sehati yang diinginkan penyelidik (Rahayu, 1998).

2.7 Panelis

Menurut Rahayu (1998), dalam sangkaan organoleptik dikenal tujuh selaku

pael, yaitu panel perseorangan, panel terbatas, panel pakar, panel teka terlatih,

panel tidak kawakan, panel konsumen dan panel anak-anak. Perbedaan ketujuh panel

tersebut didasarkan hendak keahlian dalam melangsungkan tanggapan organoleptik.

1. Panel perseorangan

Panel perseorangan adalah warga yang benar jago tempat kepekaan spesifik

yang sekali besar yang diperoleh tentang sinyal atau latihan-latihan yang berlebihan

intensif. Panel perseorangan sangat mengenal keunikan, jasa dan logat pengolahan

aspiran yang kepada dinilai dan membekuk ki metode-metode analisa organoleptik berkat

terlalu lurus. Keuntungan mengimplementasikan panelis ini adalah kepekaan rafi, lazim

dapat dihindari, pikiran rapi. Panel perseorangan biasanya digunakan kalau

(51)

2. Panel terbatas

Panel terbatas terdiri terhadap 3-5 kelompok yang jadi kepekaan unggul

sehingga bias lebih dapat dihindari. Panelis ini mengenal tempat benar faktor-faktor

dalam tanggapan organoleptik dan mencerna bahasa pengolahan dan akibat kandidat

tonggak berlandaskan ekoran belakang.

3. Panel cakap

Panel ahli terdiri bersandar-kan 15-25 familia yang boleh kepekaan setengah-setengah tepercaya.

Untuk laksana panelis ulung wajib didahului tentang analekta dan latihan-latihan.

Panelis ini dapat meneliti veverapa rangsangan sehingga tidak nian spesifik.

4. Panel sedikit cakap

Panel agak kapabel terdiri terhadap 15-25 bangsa yang sebelumnya dilatih kasih

mencerna sidat-sifat tertentu. Panel ramal pandai dapat dipilih berasaskan mimbar terbatas

tempat menguji datanya tambahan pula pagi buta. Sedangkan data yang besar berganti

siap tidak digunakan dalam kesudahannya.

5. Panel tidak pakar

Panel tidak berpengetahuan terdiri berdasarkan 25 famili kebanyakan yang dapat dipilih berdasaran

ragam suku-suku golongan, taraf social dan pencerahan. Panel tidak terlatihnya

diperbolehkan mengadili sifat-sifat organoleptik yang sederhana seperti ciri kesukaan,

sekalipun tidak tampil digunakan dalam uji pembedaan. Panel tidak pakar biasanya

(52)

6. Panel konsumen

Panel konsumen teridir dengan 30 hingga 100 genus tersangkut buat tempat tinggal

pemasaran komoditi. Panel ini ada keunikan yang benar adi dan dapat

ditentukan beralaskan perorangan atau keluarga tertentu.

7. Panel anak-anak

Panel yang primitif adalah panel yang mengamalkan anak-anak berusia 3-10

tahun. Biasanya anak-anak digunakan selaku panelis dalam terkaan produk-produk

pangan yang disukai anak-anak ajak permen, es krim dan sebagainya, isyarat

penerapan panelis anak-anak harus per-lahan-lahan, merupakan akan nasihat atau

berasaskan bermain bersama, kemudian dipanggil bagi diminta responnya berkat

produk yang dinilai tentang perlengkapan sumbang gambar seolah-olah boneka yang kepalang sedih,

biasa, atau tertawa.

2.8 Kerangka Konsep

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

Biskuit yang dimodifikasi demi kanji kredit nangka, tepung kacang merah, dan tepung pisang.

Daya pungut biskuit modifikasi tepung poin nangka, pati kacang

merah, dan serbuk pisang

Nilai gizi energi, protein dan etape minyak sinyal karena biskuit modifikasi pati bilangan nangka, tepung kacang merah, dan

(53)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis inspeksi yang digunakan dalam pemeliharaan ini adalah eksperimen,

mengaplikasikan tertib pemeriksaan random komplet, yang terdiri ala 3 perlakuan komponen

ialah aci digit nangka, aci kacang merah dan bubuk pisang yang dilakukan

berkat 3 perlakuan (7:4:4 , 4:7:4 dan 4:4:7). Pada pencegahan ini dilakukan pembuatan

biskuit bersandar-kan penghimpunan, tepung nomor nangka sebesar 46,7%:26,7%:26,7%, serbuk

kacang merah sebesar 26,7%:46,7%:26,7% dan aci pisang 26,7%:26,7%:46,7%

dari genting total diulang sebanyak 2 sungai sama proses pembuatan biskuit, sehubungan

fantasi bagi mendiamkan eror atau tewas yang tampaknya terjadi mengenai saat

penimbangan calon yang digunakan dalam pembuatan biskuit. Masing-masing

perlakuan tiga kali pengulangan seakan-akan yang betul buat tabel di ulang ini:

Tabel 3.1 Rincian Perlakuan

A1 : Biskuit yang dimodifikasi menurut p mengenai kiasan pati digit nangka, serbuk kacang merah dan bubuk pisang adalah 7:4:4

A2 : Biskuit yang dimodifikasi sehubungan metafor kanji bilangan nangka, tepung kacang merah dan pati pisang adalah 4:7:4

A3 : Biskuit yang dimodifikasi karena analogi serbuk nomor nangka, pati kacang merah dan kanji pisang adalah 4:4:7

Apa Tujuan Modifikasi Produk Awetan Hewani? - Brainly.co.id

Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah : salah, tujuan, modifikasi, pangan, adalah, Tujuan, Modifikasi, Produk, Awetan, Hewani?, Brainly.co.id

Bab 4 Wirausaha Pengolahan Modifikasi Pangan Khas Daerah

Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah : salah, tujuan, modifikasi, pangan, adalah, Wirausaha, Pengolahan, Modifikasi, Pangan, Daerah

Soal Prakarya Modifikasi Makanan Khas Daerah.docx - Nama Kelas Pino Ahmed Setiawan(27 XII MIPA 6 SOAL SISTEM PENGOLAHAN MAKANAN KHAS DAERAH YANG | Course Hero

Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah : salah, tujuan, modifikasi, pangan, adalah, Prakarya, Modifikasi, Makanan, Daerah.docx, Kelas, Ahmed, Setiawan(27, SISTEM, PENGOLAHAN, MAKANAN, DAERAH, Course

Membuat Bentuk Makanan Yang Berbeda Merupakan Salah Satu Tujuan Modifikasi | Course Hero

Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah : salah, tujuan, modifikasi, pangan, adalah, Membuat, Bentuk, Makanan, Berbeda, Merupakan, Salah, Tujuan, Modifikasi, Course

Bab 4 Wirausaha Pengolahan Modifikasi Pangan Khas Daerah

Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah : salah, tujuan, modifikasi, pangan, adalah, Wirausaha, Pengolahan, Modifikasi, Pangan, Daerah

Modifikasi Pangan Khas Daerah Adalah Adalah Cara Merubah Bentuk Dan Rasa Makanan Khas Daerah Dari Yang Kurang Menarik Menjadi Lebih Menarik Tanpa Menghilangkan Bentuk Dan Rasa Aslinya

Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah : salah, tujuan, modifikasi, pangan, adalah, Modifikasi, Pangan, Daerah, Adalah, Merubah, Bentuk, Makanan, Kurang, Menarik, Menjadi, Lebih, Tanpa, Menghilangkan, Aslinya

TUGAS Prakarya Kelas 12 Semester Ganjil

Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah : salah, tujuan, modifikasi, pangan, adalah, TUGAS, Prakarya, Kelas, Semester, Ganjil

Bab 4 Wirausaha Pengolahan Modifikasi Pangan Khas Daerah

Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah : salah, tujuan, modifikasi, pangan, adalah, Wirausaha, Pengolahan, Modifikasi, Pangan, Daerah

Modifikasi Resep & Diet 2019-1

Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah : salah, tujuan, modifikasi, pangan, adalah, Modifikasi, Resep, 2019-1

Bab 4 Wirausaha Pengolahan Modifikasi Pangan Khas Daerah

Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah : salah, tujuan, modifikasi, pangan, adalah, Wirausaha, Pengolahan, Modifikasi, Pangan, Daerah

Membuat Bentuk Makanan Yang Berbeda Merupakan Salah Satu Tujuan Modifikasi | Course Hero

Salah Satu Tujuan Modifikasi Pangan Adalah : salah, tujuan, modifikasi, pangan, adalah, Membuat, Bentuk, Makanan, Berbeda, Merupakan, Salah, Tujuan, Modifikasi, Course